Depok, 25 Agustus 2026 — LAZISNU Kota Depok akan mengikuti *Silaturahim Nasional (Silatnas) LAZISNU se-Dunia yang akan digelar pada 29 Agustus 2026 di Jombang, Jawa Timur. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan di arena Muktamar ke-35 NU.
Dalam kegiatan tersebut, LAZISNU Kota Depok akan mengirimkan tim untuk berbagi pengalaman sekaligus memamerkan portofolio keberhasilan fundraising di wilayah perkotaan, khususnya kawasan metropolitan Jabodetabek.
Sekretaris LAZISNU Kota Depok, Sodiqul Anwar, M.Hum., mengatakan bahwa pengalaman LAZISNU Depok penting untuk dibagikan karena karakter masyarakat perkotaan memiliki tantangan tersendiri dalam mengembangkan gerakan zakat, infak, dan sedekah.
“Umumnya, sebagai pengurus LAZISNU, bergerak di kawasan kota yang padat itu cukup sulit untuk mengembangkan gerakan ZISNU. Tetapi Depok mematahkan asumsi itu. LAZISNU Depok di Jawa Barat mampu berkembang dengan target fundraising yang fantastis,” kata Sodiqul.
Menurutnya, keberhasilan gerakan ZISNU di sejumlah daerah sering kali didukung oleh kondisi sosial dan kultur masyarakat yang mayoritas merupakan warga NU. Namun, kondisi tersebut berbeda dengan kota-kota besar yang masyarakatnya sangat heterogen.
“Sudah menjadi hal yang umum jika gerakan ZISNU sukses di daerah karena sosio-kulturnya jelas dan warga NU-nya dominan. Tetapi di kota besar kondisinya berbeda,” ujarnya.
Karena itu, lanjut Sodiqul, kota metropolitan membutuhkan strategi yang berbeda. Pengelola LAZ harus mampu membaca karakter masyarakat sekaligus memetakan potensi fundraising secara lebih profesional.
“Wilayah metropolitan punya tantangan sendiri. Kita harus pandai memetakan sosio-kultur yang ada,” ungkapnya.
Tidak Hanya Menyasar Internal NU
Salah satu strategi yang dikembangkan LAZISNU Depok adalah melakukan pemetaan sasaran fundraising yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan internal NU.
Menurut Sodiqul, LAZISNU harus berani masuk ke ruang masyarakat yang lebih luas dan berkompetisi secara sehat dalam mendapatkan kepercayaan publik.
“Pertama yang kami lakukan adalah memetakan sasaran fundraising. Tidak hanya di internal NU, tetapi lebih luas ke zona pertarungan pasar bebas. Di tengah pasar bebas, siapa pun bisa bertarung untuk memenangkan kepercayaan masyarakat,” jelasnya.
Untuk memenangkan kepercayaan tersebut, LAZISNU Depok mengembangkan pelayanan berbasis teknologi. Salah satunya dengan menyediakan berbagai kanal pembayaran digital agar masyarakat dapat berdonasi dengan mudah.
“Bagaimana memenangkannya? Tentu kita harus berani memakai tools teknologi tingkat tinggi. Contohnya layanan berdonasi. Kita memakai berbagai perangkat uang digital, terutama e-wallet,” jelas Sodiqul.
Konsepnya sederhana, kata dia, yaitu membuat layanan donasi semudah mungkin. Masyarakat dapat menunaikan infak kapan saja dan dari mana saja tanpa harus datang langsung ke kantor lembaga.
“Bahkan sambil rebahan orang bisa beribadah dengan berinfak. Dari sini kita membangun layanan yang profesional dan memudahkan masyarakat,” katanya.
Transparansi Menjadi Kunci Kepercayaan
Selain kemudahan layanan, LAZISNU Depok juga menempatkan transparansi sebagai salah satu strategi utama dalam membangun kepercayaan publik.
Menurut Sodiqul, informasi mengenai penerimaan dan penyaluran dana ZIS perlu disampaikan secara terbuka kepada masyarakat.
“Kenapa harus begitu? Ini berbicara tentang bagaimana meyakinkan masyarakat kota. Muzaki membutuhkan informasi. Mustahik pun memiliki perilaku yang sama, mereka memahami hitungan dan ingin semuanya terbuka,” tegasnya.
Karena itu, LAZISNU Depok terus mendorong pengembangan layanan berbasis digital, termasuk website dan pemanfaatan aplikasi NU Online. Teknologi tersebut diharapkan dapat memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk berinfak sekaligus memperoleh informasi mengenai perkembangan penghimpunan dan penyaluran dana.
Bagi LAZISNU Depok, teknologi bukan sekadar alat pembayaran, tetapi juga menjadi instrumen pelayanan, komunikasi, transparansi, dan penguatan kepercayaan publik.
Menjadi Inspirasi bagi Kota Metropolitan
Keikutsertaan LAZISNU Depok dalam Silatnas LAZISNU se-Dunia di Jombang diharapkan menjadi ruang berbagi pengalaman antarpengelola LAZISNU, khususnya mengenai strategi mengembangkan fundraising di wilayah perkotaan.
LAZISNU Depok berharap pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi bagi LAZISNU di kota-kota metropolitan lainnya bahwa gerakan ZISNU tetap dapat tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat yang heterogen.
“Harapan kami, strategi ini menjadi inspirasi bagi kota metropolitan lainnya. Bahwa LAZISNU bisa berkembang di kota-kota besar dengan cara yang natural, profesional, dan tidak harus mengandalkan relasi kekuasaan,” pungkas Sodiqul.